Selamat Datang Di Sarfarosh Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Rabu, 02 Maret 2011

Sarfarosh Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahabbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Cinta My Version

Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling…. (saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll).

Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat brjalan apabila kedua belah pihak melakukan “saling” tersebut… cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri.

Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.

Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai. Cinta juga tidak bisa dipaksakan dan datangnya pun kadang secara tidak di sengaja.

Cinta indah namun kepedihan yang ditinggalkannya kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri.

Batas cinta dan benci juga amat tipis tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan.

Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain). Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya, tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak. Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.

Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat, Menurut saya pribadi cinta itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik daripada sebelum ia mengenal cinta itu.

Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita yang hanya menginginkan enaknya buat kita dan tidak enaknya buat kamu.

Senin, 07 Maret 2011

Perlahan..


Lembut dan perlahan, rembulan mulai bersinar..
Menyibak kegelapan malam..
Membuang kerisauan dalam satu kejapan..
Perlahan lahan rasa mulai hadir..
Perlahan lahan suka mulai menyelimuti…
Perlahan lahan cinta mulai tumbuh..
Terasa banyak halangan dalam cinta..
Hati yang tersesat ini bertanya-tanya, terkejut..
Terburu-buru dalam cinta..
Rembulan pun mulai redup, tak menampakkan terangnya..
Tak merasa, hidup bisa hilang dalam sekejap mata..
Mulailah dengan perlahan..
Dan biarkan cinta tenggelam..
Tarik nafas dan rasakan, bahwa kau telah menjauh..
Menjauh dari tepi jurang perpisahan..
Buanglah kerisauanmu dengan sebuah kejapan..
Dan biarkan cinta menyapa secara perlahan..

“Dimas Damez”


Begitu Jauh, Begitu Dekat


Disini ada, disana pun ada..
Api cinta menjalar di kedua arah yang berlawanan..
Membuat hasrat kedua jiwa meluap..
Disini ada, disana pun ada..
Jalan cinta bagaikan hamparan bunga..
Ikatlah diriku dengan tali cinta..
Ingin rasanya saling memeluk..
Ingin rasanya saling tenggelam dalam madu cinta..
Kita berdua begitu jauh, namun terasa sangat dekat..
Tidak semua orang bisa menemukan cinta..
Cinta yang seindah kita..

"Dimas Damez"

Ketika Hati Menangis


Ketika Hati Menangis, Kedua Hati Hancur Sebelum bisa bersatu…
Kedua jiwa terpisah di kejauhan, entah takdir apa yang sedang di hadapi..
Kedua mata tak kuasa menahan genangannya…
Berusaha mencari secercah dari dirimu, tapi semuanya hanya sia-sia..
Bagaimana aku bisa mengahadapi semua ini,
Tanpamu hidup ini bagai bunga-bunga yang mulai layu…
Sebuah mimpi telah hancur, menjadikan dunia hampa..
Cinta itu bukan milikku lagi,
Kenapa semua ini terjadi….
Ketika hati menangis, angin menerpa disekelilingku..
Membuat hidupku bagai kehilangan arah…

"Dimas Damez"



Jumat, 04 Maret 2011

Maaf Dari Hati


Kata orang, sang waktu mengobati semua luka hati
Tapi ada ikatan yang memperdalam duka, bersamaan dengan waktu.
Di malam yang larut ini ku beranikan untuk mengutarakan kepedihan hati yang selama ini tidak kuasa untuk ku luahkan.
Pada hari ini, tepatnya hari jum’at…  Kita bertemu, bertatap, bahkan bertegur sapa.
Pada hari ini pula aku ingin meminta maaf darimu
Minta maaf atas setiap hari-hari yang telah kau berikan
Ketika aku lebih memilih mengejar impianku
Minta maaf untuk setiap menit karena telah melukai hatimu
Dan tak pernah peduli untuk memperbaiki segala kesalahanku
Tapi diantara semua permintaan maafku atas semua yang terjadi…
Adalah ketika aku lupa tuk katakan, betapa besar cintaku padamu…
Ku pikir, aku punya banyak waktu tuk katakan semua itu padamu
Tapi aku salah
Dengan kepergianmu, aku kehilangan kesempatan itu
Setelah itu, aku selalu berkata..
Kinilah waktu yang tepat
Jika ingin mendapatkan cinta, sekaranglah saatnya
Jika ingin minta maaf, minta maaflah sekarang
Jika ingin genggam tangannya, genggamlah sekarang
Atau nasib kalian akan sepertiku, sembunyi di balik keceriaan
Pandanglah pasanganmu  dan ucapkan “Aku Cinta Padamu

Oleh : “Dimas Damez”

Melepas yang Terkasih


Di salah satu jembatan anak sungai Kapuas, kota Pontianak, saya berdiri. Pandangan saya jauh ke hulu sungai. Saya begitu nikmat melihat pemandangan sungai yang menjadi sarana transportasi air di Kalimantan Barat itu. Ditambah lagi dengan berjejernya rumah-rumah penduduk di sepanjang tepian sungai tersebut. Menjadikan saya malas beranjak ke tempat lain.
Sedang asyik-asyiknya menikmati keindahan sungai itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara seorang yang mengendarai motor. “Ojek… ojek… ojek… Mas!”. Saya mendadak menengok. “Nggak,” kata saya. Dari belakang tak saya sadari seseorang yang dari tadi berdiri tidak jauh dari saya berdiri, menjambret ponsel saya dari belakang, dan langsung memboncedng motor itu, trus berlari sangat cepat.
Saya tak bisa berteriak, apalagi mengejarnya. Belakangan saya baru mengetahui bahwa di jembatan itu memang rawan penjambretan dan teknik penipuan dengan cara hipnotis.
Motor itu berlari kencang menyelusuri salah satu sayap jembatan yang khusus untuk pejalan kaki. Saya lemas. Sambil menutupi kepala dengan sebuah koran terbitan Pontianak, saya teruskan menyelusuri jembatan, yang sangat panjang itu.
Seandainya, saya tidak ke tempat ini, mungkin tidak akan kehilangan HP. Tapi, sebaliknya, jika tidak ke tempat itu, saya tidak akan bisa menikmati salah satu jembatan panjang di Kalimantan. Jadi, apapun memang mengandung resiko.
Tapi permasalahannya adalah, HP itu adalah HP kesayangan saya.. Beberapa teman, berkali-kali mau membelinyapun tidak pernah aku kasihkan. Niat saya adalah untung kenang-kenangan di kampung. Bahwa inilah ponsel saya yang pertama. Dan ponsel inilah yang berperan sangat penting dalam proses belajar saya di perantauan. Tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja, tapi lebih dari itu, saya bisa belajar dari situs-situs di internert dengan mudah.
Kecewa? Tentu saja. Saya berkali-kali menyalahkan diri sendiri. Saya kurang waspada. Dan tak terasa tali ponsel itu juga keluar dari saku celana. Jadi sangat memudahkan bagi penjambret untuk mengambilnya.
Sampai di rumah teman saya yang asal Pati, Jawa Tengah, sayapun masih merasa sangat kecewa. Untung saja, saya cepat menemukan obatnya. Obat itu saya temukan dalam novel “Kubah” Krya novelis asal Jatilawang, Purwokerto, yang kebetulan saya baca selama dalam perjalanan dari Brunei menyelusuri hutan-hutan di Serawak dan Kalimantan Barat.
Ahmad Tohari, sang penulis novel itu, melukiskan tentang Karman, seorang narapidana politik yang ketika pulang dari keterasingannya di slaha satu pulau di Maluku, banyak sekali menmui kekecewaan. Dan salah satu kekecewaan itu adalah hilangnya orang-orang yang terkasih. Sang isteri, yang sangat ia cinyai ternyata sudah menikah dengan lelaki lain.
Dalam tausiahnya kepada Karman, seorang ustadz yang membimbing kerohanian di penjara mengatakan, “Dalam menjalai kehidupan ini, kita memang harus mengalami banyak hal yang tidak mengenakan diri kita, seperti kelaparan, penyakit dan hilangnya orang-orang atau segala sesuatu yang kita cintai. Itu semua memang bentuk ujian dari Allah SWT.”
Ya, memang seperti itu. Jadi apa yang terjadi dengan saya itu tidak seberapa. Atau bahkan tak ada apa-apanya di banding orang lain. Maka akan hanya membuang-buang waktu saja, seandainya saya tenggelam dalam kekecewaan.
Apalagi jika mau membandingkan dengan saudara-saudara saya di Yogya dan sekitarnya, saya jadi malu sendiri. Saya baru kehilangan HP, yang masih bisa dibeli di took, sedang mereka sudah diuji dengan hal yang lebih berat. Kehilangan harta benda, orang–orang yang mereka cintai, plus kelaparan, karena sumbangan dari berbagai pihak mengalami keterlamabatan.
Syukurlah, Allah segera menyadarkan saya dengan goresan pena dari sastrawan yang melahirkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Jantera Bianglala dan Lintang Kemukus Dini Hari itu.
Oleh Sus Woyo
15 Jun 06 08:59 WIB

Membangun Istana di Surga


Sewaktu saya menunggu chikatetsu (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, "Assalamu'alaikum!" Saya spontan menjawab dengan suara pelan, "Wa'alaikumsalam" dan kusambung dalam hati, "Warahmatullahi wabarakatuh."
Sungguh hati ini bagaikan gurun sahara mendapat curahan hujan. Demikian damai dan bahagia sekali. Tidak setiap hari saya mendapatkan salam langsung seperti itu. Biasanya saya hanya mendapat salam lewat email atau telepon. Atau bila saya bertemu sahabat-sahabat saya sesama muslim Indonesia, maka salam pun bertebaran demikian indahnya.
Tentu saja, salam formal khas Jepang tiap hari saya dapatkan. Ohayou gozaimasu, konnichiwa ataupun konbanwa (selamat pagi, selamat siang ataupun selamat malam), sudah biasa terdengar. Tetapi itu berbeda dengan salam dalam Islam.
Pada pertemuan pengajian pun, teman yang datang belakangan akan mengucapkan salam kepada yang telah lebih dulu datang. Tidaklah elok bila yang datang belakangan, tetapi menyalami teman akrabnya yang duduk agak jauh. Sedangkan dia akan melewati teman lain yang duduk dekat pintu masuk. Seperti sabda Rasulullah, salam bukan saja diucapkan kepada orang yang dikenal tetapi juga kepada yang belum dikenal.
***
Bagaimana dengan salam yang ditulis singkat atau diucapkan sambil lalu? Saya pernah membaca email yang salam penutupnya hanya ditulis "Wass." Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?
Pernah pula, belum selesai saya menamatkan salam penutup yang pendek pun, si penelepon sudah menutup telepon. Begitu pula sebaliknya, telepon diputus tanpa jawaban salam saya dengar dari seberang.
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."
(QS An-Nisaa': 86)
Bukankah salam itu doa? Doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, "Semoga Allah memberi keselamatan padamu." Walaupun memberi salam itu sunnah. Tetapi tahukah kita bahwa yang mengucapkan salam lebih dulu itu lebih dicintai Allah? Siapa yang tidak mau dicintai Allah? Semua makhluk berlomba mendapatkan cinta Allah. Kebalikannya, menjawab salam itu wajib. Salam dalam Islam merupakan doa. Selain itu salam juga merupakan sedekah.
***
Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. "Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..." Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. "Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga."
Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian." (HR Muslim.
Seriyawati
14 Jun 06 08:16 WIB

Rabu, 02 Maret 2011

Penantian


Malam malam yang pendek menjadi panjang
Duduk dalam lamunan ke lelapan
Keresahan dalam hati akan penantian
Saat dua insan saling mencintai.
Ada detik detik keresahan, keresahan yang berkepanjangan
Jangan pernah kau tanyakan keadaanku
Karena aku pun tidak tahu bagaimana keadaanku
Saat ku lihat wajahmu di balik potret tua
Hatiku bagai bunga yang sedang bermekaran
Teringat saat saat bersama
Seakan hanya kita
dua insan yang memadu kasih

oleh : "Dimas Damez"




Google Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic India Chinese Simplified

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini (Info Blog)

Pengunjung

free counters
Powered By Blogger

Dimas Damez

.